Ramadan Annas, warga Desa Ambunu, Morowali, Sulawesi Tengah, mengungkapkan banyak warga terjangkit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) imbas operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive di daerahnya. PLTU captive beroperasi untuk mendukung smelter nikel dan batu bara, bukan publik. “Terus terang setelah dilakukan medical check up, hampir seluruh warga Desa Ambunu itu sudah terinfeksi ISPA,” tutur Ramadan dalam jumpa pers di Kantor Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jakarta, Kamis, 22 Mei 2025. Rata-rata warga, ujarnya, mengalami gejala sesak napas.
Menurutnya, rumahnya dengan PLTU hanya berjarak sekitar 100 meter. Ramadan juga mengaku kerap merasa sesak napas. Ia bercerita, dalam satu hari perlu membersihkan rumah hingga lima kali. Tiap lantai selesai disapu, satu jam kemudian debu kembali bermunculan. “Walaupun semua ventilasi sudah ditutup, tidak ada ruang angin yang masuk, tetap debunya itu masuk ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Belum lagi, ujar Ramadan, ada polusi akibat aktivitas produksi dari kendaraan-kendaraan yang melintas di area pertambangan. Juga polusi dari PLTU dan smelter. Menurut dia, perusahaan kadang membuang limbah ketika hari mulai gelap. Dengan begitu asap tebal yang dikeluarkan cerobong-cerobong asap luput dari perhatian warga.
Para warga juga terdampak tempat pengolahan batu bara yang berbatasan langsung dengan permukiman tanpa sekat yang memadai. Perusahaan tak membangun semacam pelindung yang dapat menghindarkan partikel-partikel batu bara terhirup oleh warga, terlebih ketika diterpa angin.
Tak hanya ISPA, Ramadan menambahkan, warga juga mengalami penyakit-penyakit lain seperti penyakit kulit atau gatal-gatal. Ia menduga, penyakit ini muncul lantaran sumber air yang telah tercemar limbah.